MOTIVASI
BELAJAR RENDAH
A. IDENTIFIKASI
KASUS
Kehidupan yang
semakin maju, perkembangan ilmu pengetahuan, dan globalisasi membawa perubahan
yang sangat berarti bagi bangsa ini. Perkembangan dalam segala
aspek tersebut telah membawa dampak yang serius bagi bangsa ini, baik dampak
negative maupun dampak positif. Dalam setiap sekolah misalnya, sering sekali
dijumpai anak didik yang melakukan kesalahan-kesalahan, baik yang menyangkut
pelanggaran peraturan akademik maupun pelanggaran peraturan non akademik.
Setiap siswa di Indonesia ini, bahkan di dunia,
sering sekali melaukan kesalahan-kesalahan tersebut. Adapun bagi mereka, siswa
yang tidak melakuakan keslahan akademik pastilah memiliki kendala-kendala dalam
kehidupanya.
Kendala dan
kesalahan ini adalah bagian dari sebuah permasalahan. Permasalahan
yang setiap orang dalam hal ini aktifis akademik harus membuka matanya. Yang
pertama bagi mereka yang memiliki sebuah Lembaga Pendidikan. Mereka harus
membantu dan menyelesaikan permasalahan anak didik mereka. Bahgaimana mungkin, sebuah Lembaga Pendidikan dibangun
dengan sebuah rencana tanpa solusi? Pastilah setiap rencana memiliki
permasalahan. Sebuah tindakan tanpa kemudahan? Pastilah setiap tindakan
memiliki kesukaran.
Solusi dan
kemudahan ini akan membantu peserta didik/anak didik dalam menyelesaikan
permasalahan hidupnya. Baik dari bidang pengembangan prestasi. Mislanya,
bagaimana mungkin sebuah Lembaga Pendidikan dibangun tanpa memperhatikan
kendala yang dialami anak didiknya ketika dalam proses pembelajaran dan proses
belajar? Karena dalam pengembangan pembelajaran akan dijumapai permasalahan
dalam belajar.
Inilah salah satu
pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya harus kita perhatikan. Ketika kita
melihat banyak anak didik ketika bernagkat sekolah tetapi tidak sampai di
sekolah, dan bahkan keluyuran di trotoar jalanan. Banyak
sekali anak didik yang terlibat tawuran antar pelajar, dan terlibat gang motor
yang negatif.
Semua pertanyaan
dan penyataan ini harus difokuskan pada latar belakang terjadinya hal-hal di
atas. Ataukah apakah yang mengakibatkan semua hal di atas bisa terjadi?
Sebagai salah satu
aktifis akademik, yaitu Guru BK. Dalam salah satu bidang
bimbingan dan konseling, yakni bidang belajar. Bidang yang menjadi salah satu
pekerjaan Guru BK harus diselesaikan permaslahanya dan dibantu pengembanganya.
Mengingat berbagai masalah tersebut penyebabnya
adalah lemahnya motivasi belajar siswa. Siswa yang demikian ini, tidak mampu menyerap nilai-nilai perjuangan atau
mengapa dia disekolahkan? Mengapa dia harus di Sekolah? Dan mengapa dia harus
menuntut ilmu?
Jika siswa mampu
memiliki kemauan yang tinggi, tidaklah dia dapat dengan seseuka hati membolos
sekolah. Jika siswa mampu memiliki semangat yang bulat tidaklah mungkin dia
dapat dengan mudahnya terlibat tawuran antar sekolah. Jika siswa yang memiliki
tekad yang besar tidaklah mungkin dia dapat terlibat menjadi anggota geng motor
yang negatif.
Semua hal di atas
dipengaruhi oleh kemauan, semangat, dan tekad yang diformulasikan kedalam satu
jenis wadah yaitu motivasi. Motivasi yang menghasilkan alasan mengapa orang
melakukan suatu hal atau Motivasi yang menghasilkan alasan mengapa seorang
siswa harus belajar dengan baik?
Inilah motivasi
belajar yang mengubah sikap dan perilaku siswa dalam proses pembelajaran maupun
proses belajar. Namun kenyataan di Indonesia tidaklah seperti itu, Sangat
sedikit sekali siswa yang mampu memiliki motivasi yang tinggi. Boleh kita lihat
melalui keterlambatan siswa. Berapa siswa yanga datang tepat waktu? Dan berapa
siswa yang datang dengan terlambat? Inilah permasalahan kita, melemahnya
motivasi belajar siswa mengakibatkan siswa banyak terlambat_inilah salah satu
dampaknya.
B.
DIAGNOSA
KASUS
Istilah motivasi
berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat
dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut betindak atau berbuat.
Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diintrepretasikan
didalam tingkahlakunya, berupa rangsangan/dorongan atau pembangkit tenaga
munculnya sesuatu tingkahlaku tertetnu.
Motif
dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
-
Motif
Biogenetis yaitu motif-motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organism
demi kelanjutan hidupnya, misalnya lapar, haus, kebutuhan akan kegiatan dan
istirahat, mengambil napas, seksualitas, dan sebagainya.
-
Motif
Sosiogenetis yaitu motif-motif yang berkembang berasal dar lingkungan
kebudayaan orang tersebut berada. Misalnya :keinginan orang mendengarkan music,
makan pecel, makan cokelat, dan lain-lain.
-
Motif
Teologis yaitu dalam motif ini manusia adalah sebgai makhluk yang berketuhanan,
sehingga ada interaksi antara manusia dengan Tuhan-nya, seperti ibadah dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya keinginan untuk mengabdi kepada Tuhan YME, dan
untuk merealisasikan norma-norma sesuai agamanya.
Sebelum mengacu kepada
pengertian motivasi maka kita terlebih dahulu kita menelaah pengidentifikasian
kata motif dan motivasi. Motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk
melakukan aktifitas tertentu, demi mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian,
motivasi adalah dorongan yang terdapat dalam diri seeorang untuk berusaha
mengadakan perubahan tingkahlaku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhanya.
Menoleh kepada pengertian
belajar. Thorndike dalam Hamzah 2010:11, salah seorang pendiri aliran teori
belajar tingkahlaku, mengemukakan teorinya bahwa belajar adalah proses
interaksi antara stimulus( yang berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan respons (yang berupa pikiran, perasaan,
atau gerakan). Jelasnya menurut Thorndike, perubahan tingkahlaku dapat berwujud
sesuatu yang konkret (dapat diamati) atau nonkonkret (tida bias diamati).
Good dan Brophy dalam
Hamzah 2010:15, yang menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses atau
interaksi yang dilakukan seseoran dalam memperoleh sesuatu yang baru dalam
bentuk perubahan tingkahlaku sebagai hasil dari pengalaman itu sendiri.
Pendapat senada juga dikatakan oleh Galloway yang menyatakan belajar sebagai
perubahan perilaku seseorang yang cenderung tetap sebagai adanya penguatan
(reinforcement) dalam bentuk pengalaman terhadap suatu obyek yang ada dalam
lingkungan belajar.
Driscoll dalam Hamzah 2010:15, menyatakan ada dua hal
yang harus diperhatikan dalam belajar, yaitu belajar adalah suatu perubahan
yang menetap dalam kinerja seseorang, dan hasil belajar yang muncul dalam diri
siswa merupakan akibat atau hasil dari interaksi siswa dengan lingkungan.
Sedangkan Uno (2003) enjjleaskan lebih
jauh tentang bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku secara keseluruhan sebagai hasil
dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya.
Menurut Irwanto 2002:105,
belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum mampu
menjadi sudah mampu, yang terjadi dalam jangka wakt tertentu. Perubahan yang
terjadi itu harus secara relative menetap (permanen) dan tidak hanya terjadi
pada perilaku yang saat ini Nampak (immediate behavior) tetapi juga pada
perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (pitensial behavior). Hal lain
yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena
pengalaman.
Menurut Muhibin Syah
2003:63 belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsure yang sangat
fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.
Sedangkan Skiner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam Bukunya “Educational
Psychology” dalam Muhibin Syah 2003:64 adalah The Teaching Process, berpendapat
bahwa belajar adalah suatu proses adapatasi (penyesuaian tingkahlaku) yang
berlangsung secara progresif. Pendapat
ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah “…. A process
of progressive behavior adaptation”. Berdasarkan eksperimenya B.F Skiner
percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan endatangkan hasil yang optimal
apabila ia diberi penguat (reinforcement).
Dari beberapa teori belajar yang dikemukakan
di atas, dapat dirangkum bahwa belajar adalah perubahan tingkahlaku secara
relative permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktek atau
penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan
tertentu.
Sebelum jauh mengetahui tentang pengertian
motivasi belajar terlebih dahulu melihat keterkaitan antara keduanya. Motivasi dan belajar
merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan
tingkahlaku secara relative permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil
dari praktek atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk
mencapai tujuan tertentu.
Motivasi Belajar dapat
timbul karena factor intrinsic, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan
dorongan kebutuhan kebutuhan belajar, serta harapan akan cita-cita. Sedangkan
factor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang
kondusif, dan kegiatan belajar yang manarik.
Hakakat motivasi belajar
adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar
untuk mengadakan perubahan tingkahlaku, pada umumnya dengan bebarapa indikataor
atau unsure yang mendukung. Hal itu merupakan peranan besar bagi keberhasilan
seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan
dalam sebagai berikut :
a) Adanya hasrat atau keinginan berhasil.
b)
Adanya dorongan atau kebutuhan untuk belajar.
c)
Adanya kegiatan yang manarik dalam belajar.
1.
PERANAN ATAU FUNGSI
MOTIVASI DALAM BELAJAR
Motivasi pada dasarnya dapat membantu dalam memahami dan
menjelaskan perilaku individu, termasuk perilaku individu yang sedang belajar.
Ada beberapa pernaan penting dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran dalam
Hamzah 2010:27, antara lain dalam (a) menentukan hal-hal yang dapat dijadikan
penguat belajar, (b) memeprjelas tujuan belajar yang hendak dicapai, (c).
menentukan ragam kendali terhadap rangsangan belajar, (d). menentukan ketekunan
belajar.
a.
Peran Motivasi dalam menentukan penguatan
belajar.
Motivasi dapat berperan
dalam penguatan belajar apabila seseorang anak yang sedang belajar dihadapkan
pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat
bantuan hal-hal yang perlu dilaluinya. Sebagai contoh seseorang anak akan
memecahkan materi matematika dengan bantuan table logaritma. Tanpa bantuan
tabel tersebut anak tidak akan dapat menyelesaikan tugas matematika. Dalam
kaitan itu, anak berusaha mencari tabel matematika. Upaya untuk mencari tabel
matematika merupakan peran motivasi yang dapat menimbulkan penguatan belajar.
Peristiwa diatas dapat
dipahami bahwa sesuatu dapat menjadi penguat belajar untuk seseorang, apabila
di sedang benar-benar mempunyai motivasi untuk belajar sesuatu. Dengan
perkataan lain, motivasi dapat menetukan hal-hal pa pada anak yang dapat
memperkuat perbuatan belajar. Untuk
seseorang guru perlu memahami suasana itu agar dia dapat membantu siswanya
dalam memilih factor-faktor atau keadaan yang dalam lingkunagn siswa sebagai
penguat belajar. Hal itu tidak cukup dengan memberitahukan sumber-sumber yang
harus dipelajari, melainkan yang lebih penting adalah mengaitkan isi pelajaran
dengan perangkat papaun yang berada paling dekat dengan siswa di lingkungan
keluarganya.
b.
Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar.
Peran motivasi dalam
memperjelas erat kaitanya dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk
belajar sesuatu jika yang dipelajari itu setidaknya sudah dapat diketahui atau
dinikmati manfaatnya bagi anak. Sebagai contoh, anak akan termotivasi belajar
elektronik karena tujuan belajar elektronik itu dapat melahirkan kemampuan anak
dalam bidang elektronik. Dalam suatu kesempatan misalnya, anak tersebut diminta
membetulkan radio yang rusak dan berkat pengalamanya di bidang elektronik, maka
radio tersebut menjadi baik setelah diperbaikinya. Dari pengalaman itu, anak
makin hari makin termotivasi untuk belajar, karena sedikit anak sudah
mengetahui makna dari belajar itu.
c.
Motivasi
menentukan ketekunan belajar.
Seorang anak yang telah
termotivasi untuk belajar sesuatu akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan
tekun, dengan harapan memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak bahwa
motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun belajar. Sebaliknya, pabila
seseorang kurang atau tidak memiliki motivasi untuk belajar maka dia tidak
tahan lam belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan bukan
belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan
ketekunan belajar.
Perlu ditegaskan, bahwa
motivasi bertalian dengan suatu tujuan. Seperti disinggung di atas, bahwa
disaat siang bolong si abang becak akan menarik becaknya karena bertujuan untuk
mendapatkan uang guna menghidupi anak dan istrinya. Juga pemain sepak bola
berlatih tanpa mengenal lelah, karena mengharapkan akan mendapatkan kemenangan
dalam pertandingan yang kan dilakukanya. Dengan demikian, motivasi mempengaruhi
adanya kegiatan.
Fungsi motivasi belajar
dalam Sardiman 2011:85 ada 3 fungsi, sebagai berikut :
a) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai
penggerak atau motor yang melepaskan energi. Mmotivasi dalam hal ini merupakan
motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b)
Menentukan
arah perubahan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi
dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan
tujuanya.
c)
Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan
perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan,
dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan
tersebut. Seseorang siswa yang akan mengahadapi ujian dengan harapan dapat
lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan
waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan
tujuan.
Daftar Pustaka :
Irwanto.
2002. PSIKOLOGI UMUM Buku Panduan Mahaiswa. Prenhalindo, Jakarta.
Muhibbin
Syah. 2003. Psikologi Belajar. Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Prayetno
dan Amti, Erman. 2008. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Rieneka Cipta,
Jakarta.
Uno
Hamzah. 2010. TEORI MOTIVASI DAN PENGUKURANNYA Analisis Di Bidang Pendidikan.
Bumi Aksara, Jakarta.
Rahayu,
Sutri. 2012. Penelitian: Meningkatkan Mootivasi Belajar Melalui Layanan Penguasaan
Konten Dengan Teknik Modeling di SMP N2 Kemangkon Tahun Pelajaran 2011/2012. Psikologi
Pendidikan dan Bimbigan, IKIP PGRI Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar