Rabu, 01 Januari 2014



             MOTIVASI BELAJAR RENDAH

.

A.    IDENTIFIKASI KASUS
Kehidupan yang semakin maju, perkembangan ilmu pengetahuan, dan globalisasi membawa perubahan yang sangat berarti bagi bangsa ini. Perkembangan dalam segala aspek tersebut telah membawa dampak yang serius bagi bangsa ini, baik dampak negative maupun dampak positif. Dalam setiap sekolah misalnya, sering sekali dijumpai anak didik yang melakukan kesalahan-kesalahan, baik yang menyangkut pelanggaran peraturan akademik maupun pelanggaran peraturan non akademik.
Setiap siswa di Indonesia ini, bahkan di dunia, sering sekali melaukan kesalahan-kesalahan tersebut. Adapun bagi mereka, siswa yang tidak melakuakan keslahan akademik pastilah memiliki kendala-kendala dalam kehidupanya.
Kendala dan kesalahan ini adalah bagian dari sebuah permasalahan. Permasalahan yang setiap orang dalam hal ini aktifis akademik harus membuka matanya. Yang pertama bagi mereka yang memiliki sebuah Lembaga Pendidikan. Mereka harus membantu dan menyelesaikan permasalahan anak didik mereka. Bahgaimana mungkin, sebuah Lembaga Pendidikan dibangun dengan sebuah rencana tanpa solusi? Pastilah setiap rencana memiliki permasalahan. Sebuah tindakan tanpa kemudahan? Pastilah setiap tindakan memiliki kesukaran.
Solusi dan kemudahan ini akan membantu peserta didik/anak didik dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya. Baik dari bidang pengembangan prestasi. Mislanya, bagaimana mungkin sebuah Lembaga Pendidikan dibangun tanpa memperhatikan kendala yang dialami anak didiknya ketika dalam proses pembelajaran dan proses belajar? Karena dalam pengembangan pembelajaran akan dijumapai permasalahan dalam belajar.
Inilah salah satu pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya harus kita perhatikan. Ketika kita melihat banyak anak didik ketika bernagkat sekolah tetapi tidak sampai di sekolah, dan bahkan keluyuran di trotoar jalanan. Banyak sekali anak didik yang terlibat tawuran antar pelajar, dan terlibat gang motor yang negatif.
Semua pertanyaan dan penyataan ini harus difokuskan pada latar belakang terjadinya hal-hal di atas. Ataukah apakah yang mengakibatkan semua hal di atas bisa terjadi?

Sebagai salah satu aktifis akademik, yaitu Guru BK. Dalam salah satu bidang bimbingan dan konseling, yakni bidang belajar. Bidang yang menjadi salah satu pekerjaan Guru BK harus diselesaikan permaslahanya dan dibantu pengembanganya.
Mengingat berbagai masalah tersebut penyebabnya adalah lemahnya motivasi belajar siswa. Siswa yang demikian ini, tidak mampu menyerap nilai-nilai perjuangan atau mengapa dia disekolahkan? Mengapa dia harus di Sekolah? Dan mengapa dia harus menuntut ilmu?
Jika siswa mampu memiliki kemauan yang tinggi, tidaklah dia dapat dengan seseuka hati membolos sekolah. Jika siswa mampu memiliki semangat yang bulat tidaklah mungkin dia dapat dengan mudahnya terlibat tawuran antar sekolah. Jika siswa yang memiliki tekad yang besar tidaklah mungkin dia dapat terlibat menjadi anggota geng motor yang negatif.
Semua hal di atas dipengaruhi oleh kemauan, semangat, dan tekad yang diformulasikan kedalam satu jenis wadah yaitu motivasi. Motivasi yang menghasilkan alasan mengapa orang melakukan suatu hal atau Motivasi yang menghasilkan alasan mengapa seorang siswa harus belajar dengan baik?
Inilah motivasi belajar yang mengubah sikap dan perilaku siswa dalam proses pembelajaran maupun proses belajar. Namun kenyataan di Indonesia tidaklah seperti itu, Sangat sedikit sekali siswa yang mampu memiliki motivasi yang tinggi. Boleh kita lihat melalui keterlambatan siswa. Berapa siswa yanga datang tepat waktu? Dan berapa siswa yang datang dengan terlambat? Inilah permasalahan kita, melemahnya motivasi belajar siswa mengakibatkan siswa banyak terlambat_inilah salah satu dampaknya.

B.     DIAGNOSA KASUS
Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut betindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diintrepretasikan didalam tingkahlakunya, berupa rangsangan/dorongan atau pembangkit tenaga munculnya sesuatu tingkahlaku tertetnu.
Motif dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
-          Motif Biogenetis yaitu motif-motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organism demi kelanjutan hidupnya, misalnya lapar, haus, kebutuhan akan kegiatan dan istirahat, mengambil napas, seksualitas, dan sebagainya.
-          Motif Sosiogenetis yaitu motif-motif yang berkembang berasal dar lingkungan kebudayaan orang tersebut berada. Misalnya :keinginan orang mendengarkan music, makan pecel, makan cokelat, dan lain-lain.
-          Motif Teologis yaitu dalam motif ini manusia adalah sebgai makhluk yang berketuhanan, sehingga ada interaksi antara manusia dengan Tuhan-nya, seperti ibadah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya keinginan untuk mengabdi kepada Tuhan YME, dan untuk merealisasikan norma-norma sesuai agamanya.
Sebelum mengacu kepada pengertian motivasi maka kita terlebih dahulu kita menelaah pengidentifikasian kata motif dan motivasi. Motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktifitas tertentu, demi mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, motivasi adalah dorongan yang terdapat dalam diri seeorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkahlaku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhanya.
Menoleh kepada pengertian belajar. Thorndike dalam Hamzah 2010:11, salah seorang pendiri aliran teori belajar tingkahlaku, mengemukakan teorinya bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus( yang berupa pikiran, perasaan, atau gerakan)  dan respons (yang berupa pikiran, perasaan, atau gerakan). Jelasnya menurut Thorndike, perubahan tingkahlaku dapat berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati) atau nonkonkret (tida bias diamati).
Good dan Brophy dalam Hamzah 2010:15, yang menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses atau interaksi yang dilakukan seseoran dalam memperoleh sesuatu yang baru dalam bentuk perubahan tingkahlaku sebagai hasil dari pengalaman itu sendiri. Pendapat senada juga dikatakan oleh Galloway yang menyatakan belajar sebagai perubahan perilaku seseorang yang cenderung tetap sebagai adanya penguatan (reinforcement) dalam bentuk pengalaman terhadap suatu obyek yang ada dalam lingkungan belajar.
Driscoll  dalam Hamzah 2010:15, menyatakan ada dua hal yang harus diperhatikan dalam belajar, yaitu belajar adalah suatu perubahan yang menetap dalam kinerja seseorang, dan hasil belajar yang muncul dalam diri siswa merupakan akibat atau hasil dari interaksi siswa dengan lingkungan. Sedangkan Uno (2003)  enjjleaskan lebih jauh tentang bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya.
Menurut Irwanto 2002:105, belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu, yang terjadi dalam jangka wakt tertentu. Perubahan yang terjadi itu harus secara relative menetap (permanen) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini Nampak (immediate behavior) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (pitensial behavior). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman.
Menurut Muhibin Syah 2003:63 belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsure yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Sedangkan Skiner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam Bukunya “Educational Psychology” dalam Muhibin Syah 2003:64 adalah The Teaching Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adapatasi (penyesuaian tingkahlaku) yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah “…. A process of progressive behavior adaptation”. Berdasarkan eksperimenya B.F Skiner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan endatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforcement).
Dari beberapa teori belajar yang dikemukakan di atas, dapat dirangkum bahwa belajar adalah perubahan tingkahlaku secara relative permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktek atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.
Sebelum jauh mengetahui tentang pengertian motivasi belajar terlebih dahulu melihat keterkaitan antara keduanya. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkahlaku secara relative permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktek atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.
Motivasi Belajar dapat timbul karena factor intrinsic, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan kebutuhan belajar, serta harapan akan cita-cita. Sedangkan factor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang manarik.
Hakakat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkahlaku, pada umumnya dengan bebarapa indikataor atau unsure yang mendukung. Hal itu merupakan peranan besar bagi keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan dalam sebagai berikut :
a)      Adanya hasrat atau keinginan berhasil.
b)      Adanya dorongan atau kebutuhan untuk belajar.
c)      Adanya kegiatan yang manarik dalam belajar.

1.      PERANAN ATAU FUNGSI MOTIVASI DALAM BELAJAR
Motivasi pada dasarnya dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu, termasuk perilaku individu yang sedang belajar. Ada beberapa pernaan penting dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran dalam Hamzah 2010:27, antara lain dalam (a) menentukan hal-hal yang dapat dijadikan penguat belajar, (b) memeprjelas tujuan belajar yang hendak dicapai, (c). menentukan ragam kendali terhadap rangsangan belajar, (d). menentukan ketekunan belajar.
a.       Peran Motivasi dalam menentukan penguatan belajar.
Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila seseorang anak yang sedang belajar dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal yang perlu dilaluinya. Sebagai contoh seseorang anak akan memecahkan materi matematika dengan bantuan table logaritma. Tanpa bantuan tabel tersebut anak tidak akan dapat menyelesaikan tugas matematika. Dalam kaitan itu, anak berusaha mencari tabel matematika. Upaya untuk mencari tabel matematika merupakan peran motivasi yang dapat menimbulkan penguatan belajar.
Peristiwa diatas dapat dipahami bahwa sesuatu dapat menjadi penguat belajar untuk seseorang, apabila di sedang benar-benar mempunyai motivasi untuk belajar sesuatu. Dengan perkataan lain, motivasi dapat menetukan hal-hal pa pada anak yang dapat memperkuat perbuatan belajar.  Untuk seseorang guru perlu memahami suasana itu agar dia dapat membantu siswanya dalam memilih factor-faktor atau keadaan yang dalam lingkunagn siswa sebagai penguat belajar. Hal itu tidak cukup dengan memberitahukan sumber-sumber yang harus dipelajari, melainkan yang lebih penting adalah mengaitkan isi pelajaran dengan perangkat papaun yang berada paling dekat dengan siswa di lingkungan keluarganya.
b.      Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar.
Peran motivasi dalam memperjelas erat kaitanya dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu jika yang dipelajari itu setidaknya sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak. Sebagai contoh, anak akan termotivasi belajar elektronik karena tujuan belajar elektronik itu dapat melahirkan kemampuan anak dalam bidang elektronik. Dalam suatu kesempatan misalnya, anak tersebut diminta membetulkan radio yang rusak dan berkat pengalamanya di bidang elektronik, maka radio tersebut menjadi baik setelah diperbaikinya. Dari pengalaman itu, anak makin hari makin termotivasi untuk belajar, karena sedikit anak sudah mengetahui makna dari belajar itu.
c.       Motivasi menentukan ketekunan belajar.
Seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun belajar. Sebaliknya, pabila seseorang kurang atau tidak memiliki motivasi untuk belajar maka dia tidak tahan lam belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan bukan belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan ketekunan belajar.
Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan. Seperti disinggung di atas, bahwa disaat siang bolong si abang becak akan menarik becaknya karena bertujuan untuk mendapatkan uang guna menghidupi anak dan istrinya. Juga pemain sepak bola berlatih tanpa mengenal lelah, karena mengharapkan akan mendapatkan kemenangan dalam pertandingan yang kan dilakukanya. Dengan demikian, motivasi mempengaruhi adanya kegiatan.
Fungsi motivasi belajar dalam Sardiman 2011:85 ada 3 fungsi, sebagai berikut :
a)      Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Mmotivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b)      Menentukan arah perubahan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuanya.
c)      Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan mengahadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.

Daftar Pustaka :
Irwanto. 2002. PSIKOLOGI UMUM Buku Panduan Mahaiswa. Prenhalindo, Jakarta.
Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Prayetno dan Amti, Erman. 2008. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Rieneka Cipta, Jakarta.
Uno Hamzah. 2010. TEORI MOTIVASI DAN PENGUKURANNYA Analisis Di Bidang Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta.
Rahayu, Sutri. 2012. Penelitian: Meningkatkan Mootivasi Belajar Melalui Layanan Penguasaan Konten Dengan Teknik Modeling di SMP N2 Kemangkon  Tahun Pelajaran 2011/2012. Psikologi Pendidikan dan Bimbigan, IKIP PGRI Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar